Lompat ke isi utama

Bagaimana tingkat akurasi tes amplifikasi asam nukleat manual dengan kompleksitas rendah dalam mendeteksi tuberkulosis paru pada anak-anak?

Pesan utama

- Bukti ilmiah mengenai LC-mNAATs dapat secara tepat mendeteksi tuberkulosis paru pada anak saat ini masih terbatas.

- Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menilai keakuratan LC-mNAAT pada anak-anak.

Mengapa meningkatkan diagnosis tuberkulosis paru pada anak itu penting?

Tuberkulosis pada anak sering kali tidak dilaporkan karena kesulitan dalam mendiagnosis penyakit ini. Deteksi dini dan pengobatan tuberkulosis pada anak sangat penting untuk penyembuhan yang tepat waktu dan efektif. Namun, mengenali tuberkulosis secara dini sulit dilakukan karena terdapat variasi bentuk dan gejala, serta kesulitan dalam pengeluaran dahak (lendir yang berasal dari paru-paru). Selain itu, tingkat bakteri dalam sampel pasien anak lebih rendah daripada orang dewasa. Hasil positif palsu dapat menyebabkan kecemasan yang tidak semestinya dan mengharuskan anak menjalani terapi yang memerlukan waktu dan sumber daya. Anak-anak tersebut juga berisiko memulai pengobatan tuberkulosis yang dapat menimbulkan efek samping yang berat Hasil negatif palsu dapat mengakibatkan kasus tidak teridentifikasi sehingga berpotensi menyebabkan penularan penyakit lebih lanjut. Anak-anak dengan hasil negatif palsu dapat berkembang menjadi bentuk tuberkulosis yang berat hingga dapat menyebabkan kematian karena keterlambatan diagnosis.

Apa yang dimaksud dengan tes amplifikasi asam nukleat manual dengan kompleksitas rendah untuk mendeteksi tuberkulosis?

Salah satu tes yang digunakan untuk mendeteksi tuberkulosis adalah TB-LAMP ( loop-mediated isothermal amplification ), yang termasuk dalam kategori yang dikenal sebagai tes amplifikasi asam nukleat manual dengan tingkat kompleksitas rendah (LC-mNAAT). Tes ini dapat digunakan di tempat-tempat dengan infrastruktur yang relatif sederhana, serupa dengan apa yang diperlukan untuk pemeriksaan mikroskop dahak (pemeriksaan mikroskopis lendir yang dibatukkan dari paru-paru). Tes ini memiliki akurasi yang lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan menggunakan dahak atau sampel saluran napas lainnya, bahkan pada jumlah bakteri yang rendah, serta dapat menghasilkan hasil dalam hitungan jam. Saat ini bukti ilmiah mengenai keakuratan tes TB-LAMP dalam mendeteksi tuberkulosis pada anak masih kurang.

Apa yang ingin diketahui?

Kami ingin mengetahui seberapa akurat LC-mNAAT untuk mendeteksi tuberkulosis paru pada anak-anak yang diduga menderita tuberkulosis paru dan membandingkan keakuratannya dengan Xpert MTB/RIF Ultra dan mikroskop BTA.

Apa yang sudah dilakukan?

Kami mencari penelitian yang menyelidiki keakuratan LC-mNAAT dalam mendeteksi tuberkulosis paru pada anak-anak dan merangkum hasil penelitian yang relevan.

Apa yang ditemukan?

Kami mengikutsertakan empat studi (dengan total 303 partisipan, termasuk 25 anak yang terdiagnosis tuberkulosis) yang menilai efektivitas TB-LAMP. Satu penelitian membandingkan akurasi TB-LAMP dan Xpert MTB/RIF Ultra, dan tiga studi juga menggunakan pemeriksaan dahak dengan mikroskop. Penelitian ini menggunakan beberapa spesimen pernapasan dan non-pernapasan untuk mendeteksi tuberkulosis. Semua penelitian menggunakan kultur sebagai standar acuan, yaitu metode terbaik yang tersedia untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri tuberkulosis.

Sampel pernapasan

Tiga penelitian (67 anak, delapan positif tuberkulosis) menggunakan sampel pernapasan (dahak / sputum), cairan bronkoalveolar (cairan yang diperoleh setelah membersihkan jalan napas dan paru-paru), dan aspirasi trakea (cairan yang diperoleh dari tenggorokan). Hasilnya menunjukkan bahwa 60% hingga 100% anak dengan tuberkulosis dapat diidentifikasi sebagai positif dengan tes TB-LAMP, dan 95% hingga 100% anak tanpa tuberkulosis dapat diidentifikasi sebagai negatif dengan tes tersebut.

Aspirasi lambung (cairan yang diambil dari lambung menggunakan tabung)

Tiga penelitian menggunakan sampel aspirasi lambung (176 anak, 14 positif tuberkulosis paru). Hasilnya menunjukkan bahwa 64% anak dengan tuberkulosis dapat diidentifikasi sebagai positif dengan tes TB-LAMP, dan 35% hingga 87% anak tanpa tuberkulosis dapat diidentifikasi sebagai negatif dengan tes tersebut.

Bilas lambung (cairan yang diperoleh dari lambung menggunakan selang setelah prosedur bilas lambung)

Satu penelitian dengan 60 anak (tiga positif tuberkulosis) mengevaluasi bilas lambung. Pada setiap 1000 anak yang diperiksa, jika 100 di antaranya terkonfirmasi tuberkulosis berdasarkan hasil kultur, maka TB-LAMP dapat menunjukkan hasil positif pada 135 anak, di mana 99 benar-benar menderita tuberkulosis dan 36 tidak. Sementara itu, 865 anak dapat mendapatkan hasil negatif, dengan 864 benar-benar tidak menderita tuberkulosis dan 1 anak sebenarnya menderita tuberkulosis namun tidak terdeteksi.

Aspirasi nasofaring (cairan yang diperoleh dari bagian belakang hidung dan tenggorokan)

Satu penelitian (144 anak, 12 positif tuberkulosis) mengevaluasi aspirasi nasofaring. Pada setiap 1000 anak yang diperiksa, jika 100 di antaranya terkonfirmasi tuberkulosis melalui kultur, maka TB-LAMP dapat memberikan hasil positif pada 71 anak, terdiri dari 12 anak yang benar-benar menderita tuberkulosis dan 59 anak yang tidak. Sebanyak 929 anak dapat mendapatkan hasil negatif, dengan 921 benar-benar tidak menderita tuberkulosis dan 8 anak yang sebenarnya menderita tuberkulosis namun tidak terdeteksi.

Tinja

Satu penelitian mengevaluasi spesimen tinja (144 anak, tujuh positif TBC paru). Pada setiap 1000 anak yang diperiksa, jika 100 di antaranya terkonfirmasi tuberkulosis berdasarkan hasil kultur, maka TB-LAMP dapat memberikan hasil positif pada 171 anak, terdiri dari 99 anak yang benar-benar menderita tuberkulosis dan 72 anak yang tidak. Sementara itu, 829 anak dapat mendapatkan hasil negatif, dengan 828 benar-benar tidak menderita tuberkulosis dan 1 anak yang sebenarnya menderita tuberkulosis namun tidak terdeteksi.

Apa saja keterbatasan dari bukti ilmiah yang telah didapatkan?

Kami tidak menemukan penelitian yang menggunakan standar referensi komposit (hasil tes yang berbeda digabungkan dan dianggap sebagai tes konfirmasi). Mengingat kultur bukanlah metode yang paling optimal untuk menegakkan diagnosis penyakit pada anak, maka bukti ilmiah yang tersedia masih terbatas. Temuan ini didasarkan pada empat studi dengan jumlah sampel yang sedikit, sehingga hasilnya berpotensi berubah apabila lebih banyak studi tersedia di kemudian hari.

Seberapa mutakhir bukti ilmiah ini?

Bukti ilmiah ini menggunakan penelitian hingga Oktober 2023.

Translation notes

Diterjemahkan oleh Aretha Putri (Universitas Gadjah Mada). Disunting oleh dr. Ajeng Viska Icanervilia, MPH., Ph.D (Universitas Gadjah Mada). Email Kontak: cochrane-indonesia.fkkmk@ugm.ac.id

Citation
Inbaraj LR, Sathya Narayanan MK, Daniel J, Srinivasalu VA, Bhaskar A, Daniel BD, Epsibha T, Scandrett K, Rajendran P, Rose W, Korobitsyn A, Ismail N, Takwoingi Y. Low-complexity manual nucleic acid amplification tests for pulmonary tuberculosis in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2025, Issue 6. Art. No.: CD015806. DOI: 10.1002/14651858.CD015806.pub2.

Our use of cookies

We use necessary cookies to make our site work. We'd also like to set optional analytics cookies to help us improve it. We won't set optional cookies unless you enable them. Using this tool will set a cookie on your device to remember your preferences. You can always change your cookie preferences at any time by clicking on the 'Cookies settings' link in the footer of every page.
For more detailed information about the cookies we use, see our Cookies page.

Accept all
Konfigurasi