Pesan utama
• Sebuah penelitian menunjukkan bahwa setelah tiga bulan menjalani pengobatan, remaja yang mengikuti psikoterapi kelompok untuk mengatasi kecemasan dan depresi mungkin mengalami frekuensi kejang yang sedikit lebih rendah per bulan dibandingkan remaja yang tidak menjalani terapi.
• Kami tidak mengetahui apakah pengobatan non-medis lainnya dan dukungan layanan kesehatan inovatif turut membantu mengurangi jumlah kejang atau meningkatkan kualitas hidup anak-anak, karena bukti ilmiah yang ada terbatas dan sangat tidak pasti.
• Penelitian-penelitian tersebut tidak menemukan adanya bukti bahwa pengobatan atau metode baru dalam pemberian layanan kesehatan tersebut membahayakan para peserta.
Apa itu epilepsi?
Epilepsi adalah suatu kondisi otak yang menyebabkan kejang. Kondisi ini menyerang sekitar satu dari 1.000 anak di bawah usia lima tahun, dan sekitar satu dari 200 anak berusia antara lima hingga 19 tahun. Saat terjadi kejang, sinyal listrik di otak tiba-tiba terganggu atau menjadi terlalu aktif. Kejang dapat membahayakan kesehatan dan menurunkan kualitas hidup seseorang.
Apa peran pengobatan non-medis dan pendekatan inovatif dalam penanganan epilepsi?
Sebagian besar penderita epilepsi mengonsumsi obat antikejang setiap hari untuk membantu mengendalikan kejang. Namun, hingga empat dari 10 anak penderita epilepsi tidak merespons dengan baik terhadap pengobatan saja: kejangnya tetap berlanjut. Selain itu, berbagai metode pengobatan non-medis dan cara-cara inovatif dalam memberikan dukungan kesehatan dapat membantu anak-anak dan remaja penderita epilepsi mengatasi dampak kondisi tersebut terhadap kesehatan mental, emosional, dan gaya hidup mereka.
Kami membagi perawatan dan pendekatan ini menjadi tiga kategori, berdasarkan cara kerjanya:
• terapi psikologis-perilaku, yang bertujuan untuk mengubah perilaku seseorang;
• terapi yang melibatkan pikiran dan tubuh, seperti relaksasi otot dan yoga;
• pendekatan penyediaan layanan, seperti layanan kesehatan digital atau dukungan dari spesialis epilepsi.
Apa yang ingin kita ketahui?
Kami ingin mengetahui apakah pendekatan perawatan dan pemberian layanan ini bagi anak-anak dan remaja (di bawah usia 18 tahun) serta keluarga mereka lebih baik daripada perawatan standar yang diterima oleh penderita epilepsi di:
• mengurangi frekuensi kejang yang mereka alami;
• meningkatkan kualitas hidup mereka.
Kami juga ingin mengetahui apakah pengobatan-pengobatan ini menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan atau berbahaya.
Apa yang sudah kita lakukan?
Kami mencari penelitian yang mengkaji (a) pengobatan non-medis yang diberikan sebagai tambahan atas perawatan rutin yang diterima anak-anak penderita epilepsi atau (b) perubahan dalam cara penyampaian layanan kesehatan. Kami membandingkan dan merangkum hasil-hasil penelitian tersebut serta menilai tingkat keyakinan kami terhadap bukti ilmiah tersebut, berdasarkan faktor-faktor seperti metode dan skala penelitian.
Apa yang kita temukan?
Kami menemukan enam penelitian yang melibatkan 468 peserta. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan di lima negara berbeda: dua penelitian di Tiongkok, serta masing-masing satu penelitian di India, Yordania, Swedia, dan Inggris.
• Tiga penelitian meneliti terapi psikologis dan perilaku yang ditambahkan ke dalam perawatan epilepsi standar.
• Sebuah penelitian meneliti yoga—sebuah terapi yang mengintegrasikan pikiran dan tubuh—serta perawatan standar.
• Dua penelitian meneliti cara-cara baru dalam memberikan layanan kesehatan. Dalam sebuah penelitian, seorang apoteker mengadakan sesi edukasi tatap muka selama 30 menit bagi para pengasuh dewasa. Penelitian lainnya memberikan layanan pendampingan selama enam bulan kepada para orang tua melalui aplikasi media sosial (WeChat).
Hasil utama
Semua metode pengobatan dan inovasi dalam penyampaian layanan yang kami analisis dalam tinjauan ini tampaknya aman: tidak ada satu pun penelitian yang melaporkan bahwa metode tersebut menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan atau merugikan bagi anak-anak atau pengasuh mereka.
Terapi psikologis dan perilaku
• Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa setelah tiga bulan menjalani pengobatan, remaja yang mengikuti psikoterapi kelompok mungkin mengalami frekuensi kejang yang sedikit lebih rendah per bulan dibandingkan remaja yang tidak mengikuti terapi tersebut.
• Bukti ilmiah dari dua penelitian tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan frekuensi kejang antara anak-anak yang menerima pengobatan tambahan dan mereka yang tidak.
• Kami tidak mengetahui apakah ada salah satu dari pengobatan tersebut yang meningkatkan kualitas hidup anak-anak karena bukti ilmiah yang ada masih sangat tidak pasti. Sebuah penelitian tidak mengukur hasil ini.
Perawatan yang mengintegrasikan pikiran dan tubuh
• Belum jelas apakah yoga dapat membuat lebih banyak anak terbebas dari kejang setelah tiga bulan.
• Penelitian tentang yoga tersebut tidak mengukur kualitas hidup anak-anak.
Pendekatan dalam pemberian layanan
• Kami sangat ragu apakah pendekatan layanan yang dipimpin oleh apoteker benar-benar berpengaruh terhadap frekuensi kejang.
• Kami juga tidak tahu apakah hal itu meningkatkan kualitas hidup anak-anak secara keseluruhan setelah dua bulan. Kualitas hidup dinilai oleh para pengasuh dewasa, bukan oleh anak-anak itu sendiri.
• Penelitian yang memberikan dukungan melalui aplikasi WeChat tersebut hanya melaporkan tingkat kecemasan dan depresi orang tua, bukan mengenai pengendalian kejang atau kualitas hidup secara keseluruhan.
Apa saja keterbatasan dari bukti ilmiah tersebut?
Kami hampir tidak memiliki keyakinan sama sekali terhadap bukti ilmiah tersebut karena jumlah penelitiannya terlalu sedikit untuk dapat memastikan luaran yang menjadi fokus kami, dan semua penelitian tersebut berskala kecil. Mereka menguji berbagai jenis pengobatan/pendekatan, melaksanakannya dengan cara yang berbeda-beda, serta mengukur frekuensi kejang dan kualitas hidup dengan metode yang berbeda-beda. Sebagian besar bukti ilmiah berkaitan dengan efek jangka pendek hingga tiga bulan.
Penelitian-penelitian selanjutnya sebaiknya mengatasi keterbatasan bukti ilmiah yang ada saat ini.
Seberapa mutakhir bukti ilmiah tersebut?
Bukti ilmiah tersebut diperbarui hingga Agustus 2023.
Diterjemahkan oleh dr. Nadira Deanda Putri, M.Sc. (Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta). Disunting oleh dr. Mawaddah Ar Rochmah, Ph.D., Sp.N. (Universitas Gadjah Mada). Email Kontak: cochrane-indonesia.fkkmk@ugm.ac.id.
Tinjauan Cochrane ini mulanya disusun dalam Bahasa Inggris. Akurasi terjemahan menjadi tanggung jawab tim penerjemah yang menerjemahkannya. Terjemahan ini dibuat dengan cermat dan mengikuti prosedur standar untuk menjamin kendali mutu. Namun, apabila terdapat ketidaksesuaian, kekeliruan, atau terjemahan yang kurang tepat, maka versi asli dalam bahasa Inggris yang berlaku.




