Pesan utama
Kemungkinan besar program edukasi pasien tidak memiliki manfaat tambahan jika dibandingkan dengan pengobatan dan perawatan biasa:
Memperbaiki kondisi pasien penyakit radang usus (IBD);
- menghindari kekambuhan dan flare-ups gejala penyakit; atau
- meningkatkan kualitas hidup pasien IBD.
Apa yang dimaksud dengan peradangan penyakit usus?
Penyakit radang usus terutama mengacu pada dua kondisi yang menyebabkan peradangan pada usus. Ini adalah kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Kolitis ulseratif hanya mempengaruhi usus besar Penyakit Crohn’s dapat mempengaruhi bagian tubuh manapun dari usus, mulu, hingga ke bagian bawah atau anus.
IBD terutama dapat menyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan perut, diare disertai darah, penurunan berat badan, dan kelelahan.
Bagaimana penyakit radang usus diobati?
Tidak ada obat untuk IBD. Pengobatan biasanya melibatkan obat-obatan dan pembedahan, tetapi kasus yang lebih ringan mungkin tidak memerlukan pengobatan. Perawatan tambahan dapat mencakup diet dan perubahan gaya hidup lainnya.
Apa yang ingin diketahui?
Ada kemungkinan bahwa program edukasi dapat bermanfaat bagi penderita IBD. Edukasi dapat diberikan secara tatap muka, dengan pasien dan pendidik berada di lokasi yang sama atau berbeda, seperti dalam kuliah langsung, seminar dan lokakarya, atau jarak jauh tanpa komunikasi langsung, seperti dengan menggunakan Internet, ponsel pintar, buku dan video.
Kami ingin mengetahui apakah program edukasi untuk pasien dengan IBD dapat memberikan manfaat bagi perbaikan penyakit, kekambuhan atau flare-ups, dan kualitas hidup. Kami juga ingin mengetahui efeknya terhadap akses layanan kesehatan, obat yang hilang, atau pengetahuan pasien secara keseluruhan tentang IBD. Selain itu, kami ingin mengetahui seberapa aman program edukasi tersebut, meskipun masalah keselamatan tidak mungkin terjadi.
Apa yang telah dilakukan?
Kami mencari uji klinis acak terkendali (studi di mana peserta secara acak ditugaskan ke salah satu dari dua atau lebih kelompok pengobatan) yang membandingkan edukasi pasien dengan pengobatan lain pada orang dari segala usia dengan IBD.
Apa yang ditemukan?
Kami menemukan 14 uji klinis dengan total 2708 partisipan yang berusia 11 hingga 75 tahun. Program-program edukasi disampaikan melalui internet, gawai, buku atau video, atau melalui kuliah tatap muka.
Durasi intervensi berkisar dari satu sesi 30 menit hingga 12 bulan. Dua penelitian meneliti populasi di mana semua partisipan menderita kolitis ulseratif, sementara penelitian lainnya meneliti orang-orang dengan campuran kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Tiga belas penelitian membandingkan edukasi pasien yang diberikan bersamaan dengan pengobatan standar dengan pengobatan standar saja.
Kesimpulan kami adalah bahwa
- Program edukasi pasien mungkin tidak memiliki manfaat tambahan terhadap pengobatan dan perawatan yang biasa dilakukan untuk:
- memperbaiki gejala IBD;
- menghindari kekambuhan dan flare-ups gejala penyakit; atau
- meningkatkan kualitas hidup penderita IBD.
- Kami tidak tahu apakah atau bagaimana edukasi berdampak pada akses ke layanan kesehatan, obat yang hilang, atau pengetahuan pasien secara keseluruhan tentang IBD, karena hal ini tidak dilaporkan dengan cara yang memungkinkan kami untuk membuat kesimpulan.
- Keamanan program pendidikan tidak dilaporkan dengan baik, mungkin karena program pendidikan tidak mungkin memiliki bahaya keselamatan.
Salah satu penelitian membandingkan pendidikan yang diberikan melalui internet dengan pendidikan yang diberikan melalui buku, dan penelitian lainnya membandingkan pesan teks pendidikan yang dikirim dua minggu sekali dengan pesan teks yang dikirim setiap minggu. Bukti ilmiah untuk perbandingan ini terbatas, dan kami tidak dapat mencapai kesimpulan yang berarti.
Apa selanjutnya?
Penelitian lebih lanjut mengenai edukasi pasien harus berfokus pada rincian dalam program edukasi dan memeriksa target yang berbeda, seperti bagaimana edukasi dapat membantu mengurangi obat yang terlewatkan dan cara terbaik untuk mengakses layanan kesehatan.
Apa keterbatasan dari bukti ilmiah tersebut?
Salah satu keterbatasan dari bukti-bukti ilmiah tersebut adalah bahwa program-program pendidikan tidak dijelaskan dengan baik. Banyak dari penelitian tersebut tidak jelas mengenai apa yang ingin dicapai oleh program pendidikan mereka, bagaimana caranya, dan sumber daya yang dibutuhkan. Keterbatasan lainnya adalah bahwa beberapa hal yang diukur dalam penelitian ini, seperti perbaikan penyakit atau kambuh mungkin bukan target terbaik untuk program edukasi. Hal-hal lain seperti perawatan kesehatan, obat yang hilang dan pengetahuan pasien mungkin lebih baik, tetapi mereka diukur dengan berbagai cara yang tidak memungkinkan kita untuk menggabungkannya. Selain itu, perawatan standar, yang ditambahkan dan dibandingkan dengan program edukasi pasien, tidak dijelaskan secara rinci. Ini berarti bahwa perawatan standar mungkin berbeda dari satu penelitian ke penelitian lainnya, yang dapat membuat temuan kurang akurat. Pertama, metode penelitian yang digunakan oleh penelitian-penelitian tersebut tidak memiliki kualitas terbaik.
Seberapa mutakhir tinjauan ini?
Tinjauan ini menggunakan data terbaru sampai 27 Januari 2022.
Diterjemahkan oleh dr. Mawaddah Ar Rochmah, Ph.D., Sp.N. (Universitas Gadjah Mada). Disunting oleh dr. Yudha Nur Patria, DCH, MMed(Clin Epi), MMS, PhD, Sp.A (Universitas Gadjah Mada). Email Kontak: cochrane-indonesia.fkkmk@ugm.ac.id.