Pertanyaan
Kami menyelidiki bagaimana shunting dapat memengaruhi stroke, kematian, dan komplikasi lainnya, serta menyelidiki bagaimana metode pemantauan yang berbeda pada shunting selektif dapat berpengaruh terhadap luaran-luaran tersebut pada orang yang menjalani endarterektomi karotis dengan anestesi umum.
Latar belakang
Sekitar 20% stroke diakibatkan oleh penyempitan arteri karotis (arteri utama yang memasok darah ke otak). Endarterektomi karotis adalah operasi untuk menghilangkan penyempitan tersebut dan oleh karena itu dapat mengurangi risiko stroke. Namun, terdapat risiko operatif sebesar 2% hingga 3% yang dapat menyebabkan stroke. Penggunaan tabung silikon, atau shunt, sebagai bypass sementara dapat mengurangi durasi terganggunya aliran darah ke otak selama operasi. Hal ini dapat mengurangi risiko stroke perioperatif, namun juga dapat menyebabkan kerusakan dinding arteri yang kemudian meningkatkan risiko stroke. Pembedahan shunt/pirau terbagi dalam tiga kategori. Pertama, pada shunting rutin, ahli bedah memasukkan pirau pada setiap pasien. Kedua, shunting selektif dimana ahli bedah hanya menggunakan shunt pada pasien dengan suplai darah yang tidak memadai ke otak setelah penjepitan pembuluh darah; berbagai teknik pemantauan otak, seperti ultrasound untuk memprediksi siapa yang membutuhkan shunt, telah digunakan dalam kebijakan ini. Ketiga, yaitu metode tanpa shunting dimana ahli bedah tidak menggunakan shunt sama sekali.
Karakteristik penelitian
Enam uji klinis dianalisis dalam tinjauan terbaru ini, yang melibatkan total 1.270 peserta. Tiga uji klinis membandingkan shunting rutin dengan tanpa shunting, satu uji klinis membandingkan shunting rutin dengan shunting selektif, dan dua uji klinis lainnya membandingkan metode pemantauan yang berbeda pada shunting selektif. Kami belum mengidentifikasi uji klinis yang membandingkan shunting selektif dengan tanpa shunting. Semua uji klinis yang disertakan menilai shunting yang digunakan pada orang yang menjalani endarterektomi dengan anestesi umum. Secara keseluruhan, usia peserta berkisar antara 40 hingga 89 tahun dan jumlah peserta pria lebih banyak daripada wanita. Dilaporan bahwa para peserta ditindaklanjuti tidak lebih dari 30 hari.
Hasil utama
Sejumlah uji klinis menunjukkan bahwa dilakukannya shunting rutin dibandingkan dengan tidak dilakukannya shunting pada pasien yang menjalani endarterektomi karotis dengan anestesi umum menghasilkan kematian akibat stroke lebih rendah dalam waktu 30 hari setelah pembedahan, tingkat stroke yang lebih rendah dalam waktu 24 jam setelah pembedahan, dan penurunan tingkat stroke ipsilateral dalam waktu 30 hari setelah pembedahan. Diperlukan lebih banyak lagi keikutsertaan uji klinis lain.
Kualitas bukti ilmiah
Rendahnya kualitas bukti ilmiah pada semua luaran menurunkan keandalan hasil. Terdapat beberapa masalah signifikan yang berkontribusi terhadap rendahnya kualitas, terutama dalam metodologi penelitian.
Diterjemahkan oleh Annisa Naufal Almaszahra (Universitas Gadjah Mada). Disunting oleh dr. Arditya Damar Kusuma, M.Med (Clin Epi), Sp.JP(K) (Universitas Gadjah Mada). Email kontak: cochrane-indonesia.fkkmk@ugm.ac.id.